Login Login

Sahibul Hikayat

Dari Jakartapedia

Langsung ke: navigasi, cari

Sahibul hikayat diambil dari literatur bahasa Arab yang bisa diartikan sebagai seseorang yang memiliki cerita atau yang empunya cerita. Kata sahibul hikayat juga ditujukan pada nama sejenis sastra lisan yang dibawakan oleh tukang cerita (pencerita). Cerita yang dibawakan dalam sahibul hikayat biasanya berasal dari cerita-cerita Persia seperti Seribu Satu malam. [1]

Pementasan sahibul hikayat biasanya dilakukan di kampung-kampung menjelang hari besar Islam atau acara-acara tertentu yang digelar oleh masyarakat Betawi seperti pada acara pindahan rumah, khitanan atau malam menjelang berangkat haji, masyarakat Betawi kerap memanggil tukang cerita. Pementasan sahibul hikayat biasanya berlangsung selama semalam suntuk, akan tetapi hal ini berbeda dengan sahibul hikayat yang biasa disiarkan di radio karena di radio biasanya sahibul hikayat diceritakan secara bertahap dan berkesinambungan.

Cerita diawali dengan pembacaan doa yang dibacakan dalam bahasa Arab lengkap dengan terjemahannya. Kemudian pencerita akan mulai mengatakan bahwa cerita yang ia bawakan merupakan rekaan semata. Dalam permulaan cerita adegan-adegan sering diceritakan dengan dialek Melayu klasik. Cerita yang disampikan dalam bentuk prosa yang disertai dengan bait-bait pantun. Dalam cerita yang diceritakan oleh Sahibul hikayat tidak ada tokoh jenaka tetapi dalam adegan tertentu menampilkan dialog dan karakterisasi tokoh yang menggelikan.

Keahliannya sebagai juru hikayat tidak didapat secara singkat. Seorang pembawa sahibul hikayat harus menguasai isi cerita dan paham betul isi Alquran dan Hadis. Selain itu ia juga harus mampu menjalin komunikasi dengan penontonnya. Dalam membawakan hikayat, si tukang cerita mengambil posisi duduk bersila. Sesekali dia memukul gendang kecil yang diletakkan di sampingnya untuk memberikan penekanan pada jalan cerita. Dalam cerita sahibul hikayat sering diselipkan unsur-unsur humor untuk menghilangkan kejenuhan penonton. Pada dasarnya tema yang ditampilkan dalam pementasan sahibul hikayat lebih banyak mengangkat masalah kebajikan dalam memerangi kejahatan dan biasany cerita selalu diakhiri pada pihak yang melakukan kebajikan.[2]

Referensi :

  1. Seni Budaya Betawi Menggiring Zaman, Nirwanto Ki S Hendrowinoto dkk, Dinas kebudayaan DKI Jakarta, 1998.
  2. http://hurahura.wordpress.com/2012/09/29/menarik-minat-sahibul-hikayat/