Login Login

Riwayat Pembentukan Kota Jakarta Doeloe hingga Kini

Dari Jakartapedia

Langsung ke: navigasi, cari

Menurut Sejarah Nusa Kelapa, nama awal kota Jakarta sebagaimana tertera dalam “Peta Ciela”  yang dibuat Pangeran Panembong pada abad ke-16, berbatas sebelah barat kali Cisadane, sebelah timur kali Citarum, dan sebelah selatan Cibinong, Citeureup, dan Cileungsi. Pemerintah pendudukan Jepang menarik perbatasan Jakarta mirip perbatasan yang dibuat Pangeran Panembong, Cikarang adalah batas sebelah timur, dan Rangkasbitung batas sebelah barat.[1]

Wilayah Jakarta di masa lalu berbukit-bukit dan banyak hutan jati. Sebelum VOC masuk Batavia (1619) terdapat bukit di Jakarta Utara disebut Blauwe Bergen dan hutan kayu ulin yang disebut Jati Baru. Tetapi Belanda menebang habis hutan-hutan itu.

Penebangan besar-besaran pada akhirnya membawa dampak buruk. Kota Batavia kekurangan kayu bakar. Karena itu dianjurkan penanaman kayu jati dengan upah yang tinngi. Pada tahun 1787 pabrik-pabrik gula sudah berdiri di sekeliling Batavia dan memerlukan kayu bakar, sementara keperluan tersebut semakin sukar dipenuhi. Dari persoalan itu, akhirnya mendorong Gubernur Jendral Durkop pada tahun 1780 untuk menanam hutan jati di sekitar Batavia. Tetapi penanaman ini pun seratus tahun kemudian menjadi sia-sia karena penebangan liar.

Pada tahun 1803 pemerintah Hindia Belanda mengusulkan agar pembuatan perahu oleh kongsi Tionghoa dipindahkan ke Batavia untuk mendekatkan jarak dengan sumber material perahu, yaitu kayu jati jenis pterospermus javanicum yang banyak tumbuh di Batavia.

Kini kenangan tentang hutan jati di Jakarta melekat pada nama-nama tempat seperti Kramat Jati, Jati Baru, Jati Bunder, Jati Petamburan, Jatinegara. Jenis jati (tektona grandis) yang tumbuh di Jakarta adalah kayu ulin, damar, bangka hitam. Di samping itu tumbuh di daerah selatan pterospermum javanicum (jati bayur), yang sampai dengan tahun 1910 di onderdistrik Kebayuran terdapat 488.000 batang jati bayur. Jakarta adalah bumi yang hijau. Dari kampung-kampung di Jakarta saja dapat diketahui bahwa daerah ini benar-benar hijau, karena toponim Jakarta banyak berasal dari flora.

Jalan-jalan di ibukota Jakarta sebelum masa kemerdekaan tampak langgeng dan sepi, hanya beberapa buah kendaraan yang telihat lalu lalang. Mungkin saja para petinggi kompeni dan masyarakat borjuis saja yang bisa memakainya. Kondisi jalan yang lebar, sangat tidak sebanding dengan jumlah kendaraan yang ada. Pepohonan pun masih tumbuh sepanjang jalan, tetapi kondisi jalan tidak semulus sekarang.

Dalam rentang waktu kurang lebih enam dasawarsa sejak kemerdekaan, laju perubahan terjadi sangat cepat. Pembangunan dan pertumbuhan penduduk tersebar di seluruh Jakarta dan sekitarnya. Banyak pakar dan pemerhati ibukota yang mengusukan sebaiknya Ibukota Negara Republik Indonesia dipindahkan saja dari Jakarta, dengan harapan di tempat lain bisa diterapkan sebuah grand design ibukota negara yang lebih respresentatif, sehingga semua masalah bisa teratasi. Kita harus menghargai sejarah, bahwa Jakarta adalah kota Proklamasi dan merupakan salah satu kota pelabuhan terbaik di dunia yang pernah direncanakan oleh pemerintah Belanda, dari awal ketika bernama Batavia.

Jakarta harus menjalankan konsep revitalisasi penataan ulang kota, terutama terhadap kawasan Kota yang memiliki banyak bangunan bersejarah tentang berdirinya kota Jakarta tempo doeloe. Diharapkan konsep revitalisasi ini akan menempatkan kembali nilai-nilai yang melekat pada ibukota sejak awal sampai berusia ratusan tahun seperti sekarang ini.

Di masa sekarang ini, banyak warga masyarakat berharap agar kota Jakarta dapat dibangun kembali taman-taman kota yang hijau, di samping menimbulkan keasrian dan menyehatkan warganya, jugadapat menjadi daya tarik wisatawan.

Referensi

  1. Ensiklopedia Jakarta. Eni Setiani,dkk. PT Lentera Abadi, Jakarta. 2009