Warning: Invalid argument supplied for foreach() in C:\xampp2\htdocs\Jakartapedia\includes\objectcache\SqlBagOStuff.php on line 232

Warning: Invalid argument supplied for foreach() in C:\xampp2\htdocs\Jakartapedia\includes\objectcache\SqlBagOStuff.php on line 232

Warning: Invalid argument supplied for foreach() in C:\xampp2\htdocs\Jakartapedia\includes\objectcache\SqlBagOStuff.php on line 232

Warning: Invalid argument supplied for foreach() in C:\xampp2\htdocs\Jakartapedia\includes\objectcache\SqlBagOStuff.php on line 232

Warning: Invalid argument supplied for foreach() in C:\xampp2\htdocs\Jakartapedia\includes\objectcache\SqlBagOStuff.php on line 232

Warning: Invalid argument supplied for foreach() in C:\xampp2\htdocs\Jakartapedia\includes\objectcache\SqlBagOStuff.php on line 232

Warning: Invalid argument supplied for foreach() in C:\xampp2\htdocs\Jakartapedia\includes\objectcache\SqlBagOStuff.php on line 232

Warning: Invalid argument supplied for foreach() in C:\xampp2\htdocs\Jakartapedia\includes\objectcache\SqlBagOStuff.php on line 232

Warning: Invalid argument supplied for foreach() in C:\xampp2\htdocs\Jakartapedia\includes\objectcache\SqlBagOStuff.php on line 232

Warning: Invalid argument supplied for foreach() in C:\xampp2\htdocs\Jakartapedia\includes\objectcache\SqlBagOStuff.php on line 232
Cik Di Tiro, Tengku - Jakartapedia
Login Login

Cik Di Tiro, Tengku

Dari Jakartapedia

Langsung ke: navigasi, cari
7e5e800db3b744d7a84416b91438ce94.jpg
Pahlawan nasional, bernama asli Muhammad Saman, lahir pada tahun 1836 di Cumbok Lamlo, daerah Tiro, Pidie. Sejak kecil ia sudah biasa hidup di lingkungan pesantren dan bergaul dengan para santri. Setelah belajar ilmu agama pada beberapa ulama terkenal di Aceh, ia menunaikan ibadah Haji dan memperdalam ilmu agama di Mekah. Sesudah itu ia menjadi guru agama di Tiro.

Dibesarkan pada saat memburuknya hubungan Aceh dengan Belanda. Pada tahun 1873 Kompeni mulai memerangi Aceh untuk menaklukkan kerajaan tersebut dan menempatkannya di bawah kekuasaan Belanda, pasukan pertama berhasil dipukul mundur. Panglimanya, Mayor Jenderal JHR Kohler, tewas dalam pertempuran. Sesudah itu, Kompeni mengirimkan pasukan yang lebih besar dan kuat. Lama-kelamaan pejuang Aceh terdesak. Daerah Aceh Besar jatuh ke tangan Kompeni dan kekuatan Aceh mulai lemah. Pada waktu itu, ia muncul memimpin perang dan membentuk Angkatan Perang Sabil dengan mendapat bantuan golongan hulubalang. Sultan Aceh mempercayainya sebagai pemimpin perang, dan perjuangan dilakukan atas dasar agama dan kebangsaan.

Dalam serangan yang dilancarkan bulan Mei 1881, benteng Belanda di Indrapuri berhasil direbut pasukannya. Kemudian jatuh pula benteng Lambaro, Ancuk Galang, dan lain-lain. Belanda semakin terdesak, mereka bertahan saja dalam benteng di Banda Aceh. Tetapi, ke dalam benteng itu pun, ia mengerahkan pasukan untuk melakukan sabotase. Pulau Breuh pun mendapat serangan, dari situ ia bermaksud merebut Banda Aceh. Kompeni jadi kewalahan dan daerah Aceh yang masih mereka kuasai tidak lebih dari empat kilometer persegi.

Belanda menyadari bahwa sumber semangat Aceh pada waktu itu ialah Teungku Cik Di Tiro, karena itu Kompeni bermaksud membunuhnya. Mereka berhasil membujuk seseorang yang bersedia bekerja sama yang diangkat menjadi Kepala Sagi. Kemudian,orang itu menyuruh seorang wanita memasukkan racun ke dalam makanan dan diberikannya kepada Cik di Tiro. Akibatnya Cik di Tiro jatuh sakit dan meninggal dunia di benteng Ancuk Galang pada bulan Januari 1891. Di Jakarta namanya diabadikan sebagai nama jalan yang terletak di kawasan Menteng, menggantikan nama Jl. Mampangweg.